Beranda > Uncategorized > Al Mabaadi Al-Mufidah fit-Tauhidi wal-Fiqih wal-Aqidah (bagian 4)

Al Mabaadi Al-Mufidah fit-Tauhidi wal-Fiqih wal-Aqidah (bagian 4)

Al Mabaadi Al-Mufidah fit-Tauhidi wal-Fiqih wal-Aqidah

Oleh : Asy-Syaikh Yahyah bin Ali Al-Hajuri hafizhullah

Pemberitahuan :
Perlu diperhatikan. Judul Bab seperti DAKWAH PARA NABI atau yang lain nya yang ditulis sebelum soal dengan hukum besar, baik pada buletin ini atau sebelum nya. Adalah tambahan dari saya sendiri. Adapun dari tulisan Syaikh Yahya hafizhullah tidak. Hal ini saya tambahkan supaya memberikan judul pada pembahasan yang beliau lakukan.

DAKWAH PARA NABI
Syaikh Yahya bin Ali Hajuri hafizhullah berkata :
[22] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Apa pengertian dari Tauhid yang didakwahkan oleh seluruh Rasul?”

Katakanlah: (Tauhid) artinya mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadatan.
Dalilnya adalah firman Allah:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.” (QS An-Nisa [4] : 36)

Dan Allah berfirman:
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia”. (QS Al-Ikhlas[12] : 1-4)

PEMBAGIAN TAUHID
[23] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Apakah kategori Tauhid kepada Allah?”
Katakanlah : Ada tiga kategori Tauhid :
1. Tauhid Rububiyah (Keesaan Allah dalam perbuatan-Nya)
2. Tauhid Uluhiyah (Keesaan Allah dalam peribadatan)
3. Tauhid Asma’ was-Sifat (Keesaan Allah dalam asma’ dan sifat-Nya)

Dalilnya adalah firman Allah:
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”

Dan firman-Nya:
“Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi, dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?” (QS Maryam [19] : 65)
Kedua ayat ini memuat ketiga kategori Tauhid tersebut.

Saya (Prima) berkata : ”Silahkan baca kitab Syaikh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr yang judul terjemahan nya ”Mengapa Tauhid Dibagi Menjadi Tiga” terbitan Darul Ilmi. Disitu ada dalil dan penjelasan yang panjang tetang hal ini. Dan bantahan terhadap orang yang mengingkari pembagian tauhid ini. Adapun pembagian tauhid menjadi 20, Tidak ada dasarnya didalam islam. Insya’Allah akan dibahas setelah pembahasan kitab ini selesai”

AMALAN TERBAIK DAN TERBURUK
[24] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Apakah amal terbaik dan apakah amal yang terburuk?”
Katakanlah : Amal baik yang paling besar adalah melaksanakan Tauhid dan keburukan yang paling buruk adalah Syirik.

Dalilnya adalah firman Allah :
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S An-Nisa [4] : 48)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorang pun, dan tidak pula mempunyai teman yang akrab, maka sekiranya kita dapat kembali sekali lagi (ke dunia) niscaya kami menjadi orang-orang yang beriman”.” (Q.S Asy-Syu’ara [26] : 100-102)

Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Syafaatku (pada hari kiamat) adalah bagi umatku yang melakukan dosa-dosa besar.” (H.R Ahmad. Dengan derajat shahih).

Jabir bin Abdullah Radhiyallahu’anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang mati sedangkan dia tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang mati sedangkan dia mempersekutukan Allah dengan sesuatu, maka dia akan masuk neraka.” (HR Muslim)

TINGKATAN DIDALAM ISLAM
[25] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Ada berapa tingkat di dalam agama ini (islam)?”
Katakanlah : Ada tiga tingkatan di dalam agama : (1) Islam, (2) Iman dan (3) Ihsan.
Dalilnya adalah hadits Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu dalam Shahih Muslim (no. 8) yakni,
malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam tentang Islam, Iman dan Ihsan.

Saya (prima) : Hadits yang Syaikh Yahya hafizhullah maksud, sudah saya berikan dibeberapa buletin yang lalu. Silahkan lihat lagi.

DEFINISI IMAN
[26] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Apakah iman itu?”
Katakanlah : Iman adalah ucapan lisan, keyakinan hati dan perbuatan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Dalilnya bahwa iman adalah ucapan lidah dan perbuatan anggota badan adalah hadits Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dimana Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, yang paling tinggi adalah kalimat Laa ilaaha illa (Tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah) dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan malu adalah sebagian dari iman.” (Diriwayatkan : Mutafaq’alaih).

Dalil bahwa iman adalah keyakinan hati adalah pada hadits Umar Radhiyallahu’anhu di atas, yang menyebutkan enam rukun iman. (Hadits pembahasan no 25-prima)

Dan juga firman Allah Subhanahu wa ta’ala :
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS Al-Ma’idah [5] : 23)

Anas bin Malik Radhiyallahu’alaihi wa Sallam meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: “Tanda-tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar, dan tanda-tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (Diriwayatkan : Mutafaq alaih)

Dalil bahwa iman bertambah dengan ketaatan adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal,” (QS Al-Anfal [8] : 2)

Dan Allah berfirman:
“dan supaya orang yang beriman bertambah imannya” (QS Al-Mudtatstsir [74] : 31)

Dalil bahwa iman berkurang dengan maksiat adalah sama dengan dalil yang menunjukkan bertambahnya iman. Hal ini karena sebelum (iman) bertambah tentunya dia terlebih dahulu berkurang.

Berkata Imam Bukhari di dalam kitab Shahih-nya Bab 33: Apabila seseorang meninggalkan sebagian dari kesempurnaan (iman), maka agamanya tidaklah sempurna.

Dalil lain dari berkurangnya iman adalah hadits tentang cabang-cabang Iman yang telah disebutkan (diatas tadi). Juga terdapat hadits dari Abu Sa’id al-khudri Radhiyallahu’anhu dimana Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda :
“Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, maka ia harus merubahnya dengan tangannya. Jika dia tidak sanggup, maka (dia harus merubah) dengan lisannya, jika dia tidak sanggup, maka (dia harus merubah) dengan hatinya. Dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (H.R Muslim)

Hadits ini juga menunjukkan bahwa melarang kemungkaran adalah sebagian dari Iman.

RUKUN IMAN
[27] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Ada berapa rukun Iman?”
Katakanlah: Ada enam rukun Iman. Dalilnya adalah hadits Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu adalah Shahih Muslim dimana malaikat Jibril bertanya kepada Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam tentang Iman, maka beliau menjawab:
“Engkau beriman kepada Allah, kepada para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, kepada utusan-utusan Nya, kepada hari Kiamat dan kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Kemudian Jibril berkata; “Engkau benar.” (Diriwayatkan : Mutafaq alaih dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu)

DEFINISI IHSAN
[28] Jika seseorang bertanya kepadamu; “Apa pengertian Ihsan?”
Katakanlah: Ihsan berarti : “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, jika engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Dia pasti melihatmu.” Ini diriwayatkan dari Nabi Shallallahu’alaihi wa Sallam dalam hadits Umar bin Khaththab Radhiyallahu’anhu sebagaimana dapat dilihat pada Shahih Muslim no. 8.

—oooOOOooo—

Saya (prima) dari penjelasan ringkas Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafizhullah diatas bisa kita ambil faidah :
1. Amal baik yang paling besar adalah melaksanakan Tauhid dan keburukan yang paling buruk adalah Syirik.
2. Pembagian Tauhid didalam Islam hanya ada tiga :
a. Tauhid Rububiyah (Keesaan Allah dalam perbuatan-Nya)
b. Tauhid Uluhiyah (Keesaan Allah dalam peribadatan)
c. Tauhid Asma’ was-Sifat (Keesaan Allah dalam asma’ dan sifat-Nya)
3. Tauhid yang didakwahkan para Nabi dan Rasul adalah mengesakan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam peribadatan.
4. Tingkatan di dalam agama ada tiga : (1) Islam, (2) Iman dan (3) Ihsan.
5. Iman adalah ucapan lisan, keyakinan hati dan perbuatan anggota badan. Bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
6. Rukun Iman ada Enam
7. Ihsan adalah kita beribadah kepada seakan – akan kita melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Demikian apa yang dapat disampaikan kepada pembaca yang mulia, semoga Allah memberikan kepada kita ilmu agama yang bermanfaat. Semoga Allah merahmati kita semua.

Selanjutnya pertanyaan no 29 dan seterus nya bersambung minggu depan. Bagi teman – teman (semoga Allah menjaga antum) yang baru bergabung. Kami ucapkan ”Selamat datang, salam dari kami” Semoga Allah memberikan manfaat kepada antum.

Silahkan lihat pembahasan buletin yang sebelum nya. Jika ada yang baru bergabung.

Padang, 12 Rabi’ Al-Thani 1431 H / 27 Maret 2010 M

dari akhi Prima Saputra Abu Abdullah

Iklan
Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: